Selasa, 07 Juni 2011

 
 
 

Jumat, 03 Juni 2011

kotaku kampungku palu

Kota Palu

Kota Palu
—  Sulawesi Nuvola single chevron right.svg Sulawesi Tengah  —
Lambang Kota Palu
Lambang

Kota Palu terletak di Indonesia
Kota Palu
Lokasi Kota Palu di Pulau Sulawesi
Koordinat: 0°54′S 119°50′E / 0.9°LS 119.833°BT / -0.9; 119.833
Negara  Indonesia
Pemerintahan
 - Walikota Rusdi Mastura
 - DAU Rp. 422.397.157.000,- (2011)[1]
Luas
 - Total 395,06 km2
Populasi (2005)
 - Total 282.500
 Kepadatan 680,05/km²
Demografi
 - Suku bangsa Kaili, Kulawi, Pamona, Banggai, Tionghoa
 - Agama Islam, Kristen, Buddha
 - Bahasa Indonesia, Kaili
Zona waktu WITA
Kode telepon +62 451
SNI 7657:2010 PAL
Kecamatan 4
Desa/kelurahan 43


Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu terletak sekitar 1.650 km di sebelah timur laut Jakarta. Koordinatnya adalah 0°54′ LS 119°50′ BT. Penduduknya berjumlah 682.500 jiwa (2011). 
Alhamdulillah.. Akhirnya diriku dapat kesempatan untuk mengunjungi tanah Sulawesi. Hehehe, kemanakah diriku pergi ? Bukan Manado.. bukan Makassar.. melainkan Palu. Ok, jika ada yang langsung bertanya disebelah mananya dunia kah Palu itu ? Hehe, itu ibukota propinsi dari Sulawesi Tengah.
Dalam rangka apa ke Palu ? Masih sama kaya waktu itu aku pergi ke Palembang, untuk sosialisasi datawarehouse. Tapi bedanya, sekarang diriku yang full presentasi. Ahiahia.. Stress juga, secara mesti memahami semua konsep bahan yang ada dan mesti mengerti banget cerita dibalik semua kubus yang ada. Tapi gpp sih, itu tantangan buat aku dan alhamdulillah dibantu sama Mas Adi dan Mas Everd. Di drill satu hari euy.. Bistu langsung ke Palu.

Ke Palu naik Merpati, pesawat paling pagi dari Jakarta. Garuda ga nyampe Palu. Hehe.. kebayang kecilnya itu kota dunk.. :P Kita transit dulu di Makassar. Alhamdulillah pesawatnya ga ngaret lama, telat sekitar 20 menit. Yaa lumayan lah, masih tolerable (untuk ukuran maskapai Indo).
Begitu mau mendarat di Palu bisa dilihat gunung-gunung yang masih hijau dan mengitari kota Palu. Dari atas pesawat aja diriku sudah terpana, betapa masih “perawan”nya tanah Sulawesi ini”. Hmm.. yang tadinya aku pikir perjalanan ke Palu tidak akan menarik, mm.. nampaknya banyak hal baru yang akan aku rasakan.
Kita mendarat di bandara internasional Mutiara. Mmm.. namanya sih Internasional, tapi.. Huehuehue.. kecil ajee.. Cuman ada satu pesawat pas kita mendarat, Sriwijaya Air. Eh 10 menit kita sampai, Sriwijaya air langsung terbang lagi deh. Hehehe..
Bandara Udara Internasional Mutiara Palu
Pak Narno (supir dari KBI Palu) udah siap menjemput kita. Pas bagasi udah pada turun, langsung deh bergerak menuju hotel. Mmm.. berhubung di pesawat kita cuman dikasi roti sama air, ibu Elsye mengusulkan bagaimana kalau kita makan siang dulu. Kita akhirnya makan siang khas makanan Palu. Yaitu Kaledo namanya. Itu singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Hehe macem kaya Sop Dengkul Sapi gitu deeh.. Disajiinnya sama tulang-tulang nya juga. Jadinya sum-sum di dalam tulangnya bisa kita ambil.. Umm.. enaaaaakkk bangeeeettt.. Rawan kolesterol tinggi. Tapi gpp.. Enak buangeeett.. Masih terbayang loh mpe sekarang.. Yummeeehh..
Kaledo khas Palu
Bistu pas menuju hotel, melewati jembatan baru di Kota Palu. Jembatannya itu persis di ujung Teluk Palu. Kata Mas Narno SBY waktu itu yang ngeresmiin jembatannya. Karena aku masi terpesona dengan landscapenya kota Palu, aku minta mas Narno buat berhentiin kita di Jembatan. Ngapain ? Foto-foto dunk.. :) Menurut aku sih keren. Hamparan gunung-gunung yang mengelilingi kota dan luasnya lautan membuat diriku terkagum-kagum. Coba ya kota kecil ini bisa lebih berkembang. Akan sangat menarik.. :)
Gunung yang mengelilingi kota Palu 
Puas foto-foto, langsung menuju Hotel. Nama hotelnya Palu Golden. Katanya siih bintang 4, dan katanya juga sih paling bagus di Palu. Wehehehe.. No Comment aku soal hotelnya. Yang jelas feels like home lah pasti nyampe hotelnya. Humm.. dikarenakan banyak ornamen-ornamen di dalam hotel yang ada juga di rumah aku. Yang jelas, tidurku nyenyaak..
Pemandangan Teluk Palu dari balkon hotel
Besok paginya langsung menuju KBI Palu. Hmm.. dari gedung KBInya sih cukup merepresentasika keadaan kota Palu itu sendiri. Palu = Jakarta in the 70s. Hehehe.. jadul euy.. Antik dan menarik.. :D Yang jelas, ga macet. Kemana-mana katanya ga nyampe gigi 3. Pokoknya ga bakal berhubungan dengan namanya kemacetan yang bikin emosi semua orang yang ada di Jakarta.
KBI Palu
Selesai unggah ungguh dengan para petinggi di KBI Palu , lalu dikenalin dengan para staff yang akan mengikuti training. Eh ternyata rame anak PCPM loh di Palu. Ada angkatan aku tahap 2, namanya Intan. Terus angkatan 26 ada satu namanya Yansen. Dan angkatan 25 ada dua, Rawindra dan Mursidi. Ehh ternyata mas Rawindra itu saudaranya si Max loh.. Mmm banyak amat ya si Max saudaranya di BI. Huihihihi.. :P
Alhamdulillah trainingnya lancar. Alhamdulillah bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya. Dan semoga deh bisa membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugasnya. :)
Selesai training langsung diajak makan siang di Teluk Donggala. Umm.. makan ikan bakar. Enak..enak.. Perjalanan sih agak jauh yaa.. Cuman worth it ko. Yang aku cobain itu makan Ikan Sunu Bakar. Macam kaya kerapu gitu bentuknya. Enak banget ikannya. Segar dan manis.. Yang unik ya, makan ikan bakarnya pake sayur nangka kaya sayur nangka di restoran Padang gitu. Umm.. aneh yaa.. Eh tapi begitu dirasain ternyata sinkron loh sama sambal dan bumbu ikan bakar nya. Enak..Enak.. Yum..yumm.. Mauu lagi.. Mauu lagi.. Hehe..
Ikan Sunu Bakar
Selama makan siang Mas Windra cerita kalo dia suka banget touring keliling Palu. Humm mendengar ceritanya sebenarnya tergoda banget buat extend di Palu. Tapi hihihi.. ada yang ga ikhlas kalo aku extend.. :P Abis makan aku sama ibu Elsye berburu oleh-oleh khas Palu. Humm.. sebenarnya pilihan buat oleh-oleh juga ga banyak sih yaa.. Yang khas di Palu adalah souvenir kayu hitam dan bawang goreng. Laah ? ko bawang goreng ? Iyaa.. jadi bawang merah khas palu itu emang unik banget. Kecil-kecil dan warnanya itu ga semerah bawang merah biasanya. Terus teksturnya juga keras banget. Kaya batu malah. Diajakin mas Narno ke tempat produksi bawang goreng nya. Bisa ngeliat bawangnya pas masih mentah dan tentunya bawang gorengnya. Katanya sih kontur tanah Palu yang berpasir yang bisa membuat bawang jenis tersebut tumbuh dan berproduksi. Pas nyobain bawangnya sih emang enak banget. Kriuk..kriuk.. Dan rasanya itu.. Lama-lama jadi berasa manis di mulut. Unik banget emang..
Bawang Merah khas Palu
Hehe.. sorenya diajakin lagi jalan-jalan sama temen-temen PCPM. Nongkrong di pinggiran teluk Palu dan makan pisang goreng pake sambal. Wehehehe.. Enak..enaak.. Terus diajakin liat lapangan tennis punya BI di Palu. Dan akhirnya makan malam di restoran seafood di tengah kota. Karena rata-rata hobi makan cumi, jadinya kita pesen cumi bakar, cumi goreng tepung sama cumi asam manis. Cuminya enak bangeeett.. Gede-gede dan rasanya manis. Aaaahh.. kenikmatan seafood laut Sulawesi emang luar biasa.
Benar-benar pengalaman yang menarik. Aku mau travelling ke Sulawesi lagi… Aku Mauu.. Aku cinta Indonesia. Looh !?!? Ya begitulaah.. Negara kita emang kaya tauu.. Semoga bisa semakin berkembang yaa..
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
 

Indahnya Pesona Jembatan Palu 4

Indahnya Pesona Jembatan Palu 4
lawan.us,- Salah satu tempat wisata yang bisa kita kunjungi saat berlibur yakni Teluk Palu. Berlokasi di Palu Timur berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat Kota Palu. Nah, salah satu hal yang mengagumkan yang pernah dibangun di wilayah ini yakni adanya Jembatan Palu 4.  Apa yang istimewa dari adanya jembatan itu? Ternyata jembatan ini tidak hanya mempercantik objek wisata Teluk Palu, akan tetapi karena jembatan tersebut menyandang gelar sebagai jembatan lengkung pertama yang berhasil dibangun di Indonesia dan menempati urutan ke tiga di dunia, wow..
Awalnya keberadaan Teluk Palu tidak sepopuler saat ini. Semua berubah setelah pembangunan Jembatan Palu 4. Sebuah jembatan yang dibangun tepat di hadapan Teluk Palu pada Mei 2006 yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat, dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebuah kebanggaan warga Kota Palu mengingat jembatan itu merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia, dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis.
Keberadaan Jembatan Palu 4 menambah indahnya pemandangan Teluk Palu pada malam hari. Apalagi kalau sedang berada di atas jembatan dan melihat ke langit ketika ada pesawat melintasi Teluk Palu, suasananya begitu menyenangkan.
Belum lagi dari atas jembatan terlihat jelas gambaran teluk yang ditandai dengan sinar-sinar lampu penerang. Lampu-lampu perahu nelayan bergerak-gerak di tengah teluk karena diempas gelombang terlihat begitu indah.
Seiring tetap tegaknya Jembatan Palu 4, pembangunan di kawasan sekitar teluk mulai meningkat. Hal itu ditandai dengan berdirinya hotel-hotel, tempat hiburan, dan restoran yang tiap malam tak henti-hentinya dipadati pengunjung.
Selain itu, keberadaan nelayan tradisional dan pedagang ikan turut meramaikan suasana malam, pagi, dan siang harinya. Ini pun kemudian menjadi salah satu pilihan objek wisata di kawasan Teluk Palu.
Pantai Talise
Selain bisa menikmati kehidupan nelayan, Anda bersama keluarga bisa berenang di Pantai Talise. Pantai itu berada di ujung Teluk Palu. Pantai itu membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala.
Karena letaknya berada di kota, pantai ini ramai dikunjungi warga Palu, terutama pada malam hari. Pantai Talise menjadi tempat wisata malam. Warga dapat menikmati keindahan Teluk Palu yang berbatasan dengan Selat Makassar itu.
Kota Palu memang sangat indah. Tidak mengherankan bila kota ini dikenal dengan julukan Kota Tiga Dimensi karena ada Teluk Palu yang indah, dikelilingi pegunungan, dan dilengkapi sungai panjang yang membelah kota. Sungai ini adalah muara dari Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu.

KenaLi Kotaku; Palu – Sulawesi Tengah 16/03/2011

Sulawesi Tengah merupakan satu dari sedikit wilayah di Indonesia yang memiliki perpaduan serasi antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan sejarah yang panjang, yang sangat menarik untuk diketahui, dipelajari, dan tentu saja… untuk DIKUNJUNGI!
Kota Palu
Kota Palu berada di Teluk Palu dengan bentuk daratan berupa dataran rendah di bagian barat serta daerah berbukit di bagian timur. Secara astronomi, Kota Palu terletak antara 0° 35″ – 0° 56″ lintang selatan dan 119° 45″ – 120° 1″ bujur timur tepat berada dibawah garis khatulistiwa. Kota yang jarang turun hujan ini dikenal sebagai salah satu kota terkering di Indonesia dengan udara yang panas pada siang hari dan sejuk pada malam hari. Udara yang panas akan membuat tubuh kita berkeringat sepanjang hari, namun hal ini cukup terobati oleh keindahan pemandangan yang ditawarkan Kota Palu yang membuat sejuk mata. Banyak objek-objek wisata yang berpotensi untuk berkembang di Kota Palu
, baik objek wisata alam dan objek wisata budaya. Beberapa objek wisata yang ada antara lain Teluk Palu merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang memiliki daya tarik pemandangan pegunungan dan pantai serta memberikan peluang untuk olahraga selancar     
angin (windsurfing). Pantai Talise memiliki panorama alam yang indah dan cocok untuk melakukan olahraga air seperti selancar angin (windsurfing) dan ski air (waterski). Di pantai ini juga dapat menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) di sela-sela Gunung Gawalise sambil menyaksikan nelayan memancing atau menjala ikan. Pada malam hari tempat ini banyak dikunjungi masyarakat untuk menikmati udara alam yang sejuk sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah seperti jagung bakar dan sarabah. Taman Ria, merupakan tempat rekreasi keluarga di pesisir Teluk Palu yang biasanya ramai dikunjungi pada malam hari dan pagi atau sore hari pada hari libur, sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah di sepanjang pesisir pantai serta menikmati pemandangan Teluk Palu. Selain pemandangan di sepanjang pesisir pantai, Kota Palu juga menawarkan pemandangan perbukitan yang sangat cocok untuk dikunjungi baik pada siang maupun malam hari sembari santai melihat Kota Palu dan Teluk Palu yang cantik dari ketinggian. Bumi Roviega adalah salah satu objek wisata yang berupa daerah perbukitan di bagian timur Kota Palu. Dari kawasan Bumi Roviega, dapat menikmati pemandangan alam Teluk Palu dan di kawaan ini juga terdapat arena motor cross, padang golf, pusat kerajinan di lokasi MTQ Jabal Nur, Pusat Industri Kecil (PIK) rumah tangga dan lokasi Perguruan Tinggi Negeri Tadulako (UNTAD). Selain itu juga terdapat Cagar Alam Poboya, yaitu hutan lindung dengan luas areal 1.000 hektar dimana terdapat perkebunan kemiri yang dapat dijadikan objek wisata agro. Dari tempat ini dapat menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) dan pemandangan alam Kota Palu serta Gunung Gawalise yang letaknya berhadapan.
Selain menawarkan objek wisata alam, Kota Palu juga banyak terdapat objek wisata budaya. Diantaranya adalah Sou Raja atau Banua Oge. Sou Raja (rumah Raja) adalah rumah adat yang dibangun dengan perpaduan arsitektur Bugis dan Suku Kaili yang masyarakatnya mayoritas mendiami Lembah Napu. Sou Raja dibangun atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abad ke-19 sebelum masehi yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga raja dan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Sou Raja yang berada di Kelurahan Lere merupakan bekas tempat tinggal Raja Djanggola yang dahulu pernah berkuasa di Palu. Ada juga Makam Dato Karama. Dato Karama adalah gelar dari Abdullah Raqie, tokoh yang pertama mengajarkan agama Islam di kalangan suku Kaili di Lembah Palu sekitar awal abad ke-19, masyarakat setempat memberi gelar Dato Karama karena ia memiliki banyak kesaktian. Makam Dato Karama selain mengandung nilai sejarah juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan pada waktu tertentu masyarakat sering melakukan ziarah ke tempat ini. Di lokasi makam Dato Karama terdapat 21 buah makam, diperkirakan diantaranya terdapat makam istrinya, sedangkan yang lainnya adalah makam pengikutnya. 
Kabupaten Poso
Perjalanan Palu-Poso ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Poso sangat menakjubkan. Perbukitan yang hijau setia menemani perjalanan.
Poso merupakan kota pelabuhan utama sekaligus kota pelabuhan dan terminal di wilayah pantai utara Sulawesi Tengah. Bagi wisatawan, Poso adalah kota persinggahan (transit) sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi wisata di sekitar Poso. Lokasi pertama yang bisa kita kunjungi ketika sesampainya di Kabupaten Poso adalah Danau Poso. Danau terbesar ketiga di Indonesia ini memiliki luas sekitar 32.300 hektar dengan kedalaman rata-rata 500 meter. Letak danau berada pada ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memiliki keunikan karena berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti laut. Panorama alam disekelilingnya sangat indah dan perbukitan serta hutan disekitarnya berdiri tegak memagari danau. Pada setiap bulan Agustus digelar acara Festival Danau Poso yang merupakan acara budaya yang terbesar di wilayah ini. Festival ini diikuti oleh sebagian besar masyarakat desa yang berada di daerah yang indah ini. Setelah puas menikmati pemandangan Danau Poso, kita bisa  melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Saluopa. Air terjun Saluopa terdiri dari 12 tingkat dengan aliran air yang sangat deras, jernih dan sejuk. Di sekitar air terjun ini terdapat hutan yang menambah ke­indahan panorama alamnya. Untuk menuju lokasi air terjun harus ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter dari tempat parkir kendaraan. Pengunjung dapat naik sam­pai ke tingkat teratas melalui tangga yang berada sepanjang air terjun dan tidak berlumut. Perjalanan panjang menuju air terjun rasanya terbayar oleh keindahan air terjun yang sangat menyejukkan mata. Bahkan pengunjung dapat berenang di beberapa kolam dengan airnya yang bening sejernih kristal. Setelah puas bermain air, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Ada objek wisata Goa Pamona. Pada masa budaya megalith, Goa Pamona berfungsi sebagai tempat penguburan kedua. Mulut Goa Pamona menghadap ke selatan dengan lebar 2,40 meter, memiliki kedalaman sedalam 80 meter dan di dalamnya terdapat 8 buah kamar tempat menyimpan ke­rangka manusia serta bekal kuburnya. APA!?! Kerangka manusia?? Tengkorak?!?
Selain itu di Poso, kita dapat mengunjungi Pusat Kerajinan Rakyat Pembuat Cinderamata. Di tempat ini dapat disaksikan ketrampilan para pengrajin meng­ukir kayu eboni untuk dijadikan souvenir atau cinderamata bagi para wisatawan. Kayu eboni atau lazim disebut kayu hitam merupakan kayu yang langka di dunia dan harganya sangat mahal. Bibit kayu eboni ini terdapat di tengah-tengah hutan, apabila akan digunakan untuk bahan baku meubel dan cinderamata, kayu ini harus sudah berumur ratusan tahun baru dapat diproses atau ditebang. Dasar wanita, begitu dengar kata cinderamata, yang ada di otaknya adalah belanja. Yup! It’s time for shopping, girl!!!
Poso adalah sebuah kota kecil yang teratur dan dapat ditempuh keliling kota ini hanya dengan berjalan kaki. Suasana malam di Kota Poso cukup sepi. Mungkin masih ada pengaruh pasca kerusuhan beberapa waktu silam, sehingga belum banyak masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kota ini. 

Kabupaten Parigi Moutong
Kabupaten Parigi Moutong terletak memanjang di sisi barat Teluk Tomini, dengan luas wilayah 6.231,85 km2. Keadaan alam wilayah Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari daratan, pantai dan hamparan-hamparan pegunungan yang luas, menyimpan kekayaan objek-objek wisata yang berpotensi menjadi daya tarik bagi kunjungan wisatawan ke tempat ini. Kita bisa menyusuri jalan Trans Sulawesi di sepanjang pesisir Teluk Tomini dari arah selatan menuju utara Kabupaten Parigi Moutong.

Objek wisata pertama yang bisa dikunjungi adalah Air Panas Kayu Boko. Dahulu tempat ini adalah tempat pemandian serdadu-serdadu jepang pada jaman penjajahan Jepang dan memiliki panorama alam yang indah. Di sini juga terdapat Tugu Khatulistiwa. Siapa bilang Tugu Khatulistiwa hanya terdapat di Pontianak, Kalimantan Barat saja. Di Kabupaten Parigi Moutong ternyata juga ada. Dibangun pada tahun 1992 sebagai tanda bahwa desa tersebut berada tepat pada garis khatulistiwa 0o. Pembangunan tugu tersebut dalam rangka kegiatan Latihan Integrasi Taruna Dewasa (LATSITARDA) Nusantara XIII (1991-1992). Satu hal yang disayangkan, keadaan tugu khatulistiwa disini tidak terawat dengan baik. Hanya dibiarkan begitu saja dengan cat yang kian memudar juga rumput liar tumbuh di sekeliling tugu. Padahal sebenarnya tugu khatulistiwa ini dapat menjadi salah satu simbol Kabupaten Parigi Moutong. Melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita bisa menuju ke salah satu objek wisata budaya lainnya yaitu Situs Bekas Istana Tinombo. Bangunan bekas istana Tinombo dibangun pada tahun 1930 oleh Pemerintah Belanda, pada masa pemerintahan Raja Tinombolotutu, dengan arsitektur Cina. Bangunan ini terdiri dari atas bangunan induk dengan luas 15,5 x 12,5 meter dan dapur dengan luas 14,5 x 5,5 meter serta memiliki halaman dengan luas 90 x 80 meter. Bangunan ini pernah dipugar dan dirawat oleh ahli waris.
Cukup mendatangi objek wisata budaya, sekarang waktunya melirik objek wisata alam yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Pertama adalah Air Terjun Likunggawali. Objek wisata ini merupakan tempat olahraga panjat tebing yang curamnya lebih dari 80 meter dan memiliki panorama alam yang indah. Di lokasi ini juga terdapat air terjun dan jalur trekking yang melewati beberapa desa di sekitar, yaitu Jalur Likunggawali–Janaedo (merupakan jalur trekking dari daerah pantai timur ke daerah pantai barat) dan jalur trekking Towera–Janaedo. Pada jalur trekking Linggawali–Janaedo, yang dapat dilihat adalah air terjun Toranaya dan pada waktu-waktu tertentu di lokasi air terjun dapat dilihat burung Walet Sarang putih (Callocalia Fuchipagus). Jalur menuju air terjun masih sangat alami, sehingga  benar-benar harus melewati semak belukar, menyeberangi sungai, lompat diantara batu-batu sungai, juga memanjat untuk mencapai lokasi air terjun.
Setelah  berpetualang mendaki gunung lewati lembah, next destination is… Pantai Nalera! Pantai Nalera terletak tepat di pinggir jalan raya Trans Sulawesi, sehingga untuk mencarinya tidaklah sulit. Pantai ini memiliki panorama alam yang indah karena letaknya yang berhadapan dengan gunung, dengan hamparan pasir putih yang indah dan luas, sehingga cocok untuk tempat mandi dan berjemur. Disini para pengunjung dapat menikmati sunrise dan sunset. Apabila air surut, maka akan terbentuk kolam yang dikelilingi oleh karang yang berwarna warni.
Di sini juga terdapat habitat satwa langka Burung Maleo. Burung Maleo adalah merupakan jenis satwa endemik Sulawesi yang dilindungi. Burung Maleo bertelur di pasir dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Sesudah bertelur, burung tersebut terbang dan waktu penetasannya secara alamiah dalam selang waktu kurang lebih 80 hari. Telurnya 6 kali lebih besar dari telur ayam, sedang­kan besar Burung Maleo hanya sebesar ayam biasa.
Kabupaten Donggala
Donggala adalah sebuah kota tua yang terletak 34 km timur laut dari Kota Palu dengan arsitektur Belanda yang masih menghiasi kota. Pada masa kolonial, Donggala merupakan kota Pelabuhan dan perdagangan yang cukup sibuk di wilayah Sulawesi Tengah.
Salah satu pantai yang kudu kita kunjungi ketika berada di Palu, yaitu Tanjung Karang. Tanjung Karang merupakan lokasi wisata terpenting di wilayah ini sekaligus menjadi salah satu objek wisata andalan Provinsi Sulawesi Tengah. Pantai Tanjung Karang terletak sekitar 5 km di utara Donggala. “INDAHNYAAAAAAAAA………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”



pantai berpasir putih dengan warna air laut yang bervariasi dari hijau hingga biru. Masih sangat alami. Seperti namanya, Tanjung Karang juga menawarkan keindahan bawah laut berupa taman laut dengan aneka terumbu karang dan ikan hias. Tidak jauh dari Pantai Tanjung Karang terdapat objek wisata Pusentasi. Merupakan sumur air asin yang letaknya kurang lebih 10 meter dari pantai dengan garis tengah kurang lebih 15 meter dan dengan kedalaman kurang lebih 7 meter. Oleh masyarakat setempat disebut Pusentasi yang artinya pusat laut. Bila air surut maka air di dalam sumur akan naik dan sebaliknya bila pasang naik air di dalam sumur akan surut. Pusentasi berada di dalam kawasan objek wisata Pantai Pasir Putih Pusentasi Towale yang memiliki panorama alam dan udara yang sejuk, serta dihiasi oleh jejeran karang di pinggir pantai yang sangat indah dan berwarna-warni. Konon masyarakat setempat mempercayai bahwa jika kita berhasil menyentuh bagian bawah dari sumur air asin (pusentasi) yang berbentuk tangan dan berdoa agar diberi jodoh maka itu akan menjadi kenyataan. Percaya? Silahkan mencoba.

Belum lengkap rasanya jika mengunjungi Kabupaten Donggala tanpa berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu. Kawasan hutan yang terletak sebagian di Kabupaten Donggala dan sebagian di wilayah Kabupaten Poso memiliki luas 217.991 hektar. Ditetapkan sebagai Taman Nasional karena memiliki potensi flora dan fauna tropis yang berkarakteristik Sulawesi. Di kawasan ini juga terdapat patung-patung megalith dengan berbagai bentuk yang tersebar di sekitar 431 situs di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Selain itu di dalam Taman Nasional Lore Lindu terdapat sebuah danau bernama Danau Lindu. Terletak di tengah Taman Nasional Lore Lindu dan dikelilingi hutan tropis pada ketinggian 960 meter di atas permukaan laut serta habitat flora dan fauna khas Sulawesi. Di tengah Danau Lindu terdapat pulau kecil yang oleh penduduk setempat disebut Pulau Bola dimana terdapat kuburan tua Raja Maralindo yang terbuat dari sebuah batang kayu. Untuk menikmati panorama alam danau, dapat menggunakan motorboat yang disewakan oleh penduduk setempat. Satu hal yang perlu diperhatikan jika ingin berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu, pastikan kondisi kendaraan Anda dalam keadaan baik, karena medan menuju ke lokasi sangat parah dengan kondisi jalan yang rusak, berbukit, dengan jarak yang cukup jauh. Belum lagi jika ingin menuju Danau Lindu hanya dapat ditempuh menggunakan motor selama 1 jam perjalanan dari gerbang Taman Nasional Lore Lindu. Melelahkan. Butuh waktu seharian jika ingin menjelajahi seluruh kawasan taman nasional, bahkan mungkin lebih.

Objek wisata lainnya, yaitu Pemandian Air Panas Bora. Air Panas Bora merupakan objek wisata alam lainnya di Kabupaten Donggala yang terletak di Desa Bora, Keamatan Sigi Biromaru, sekitar 20 km dari Palu. Memiliki panorama alam yang indah dari celah-celah gunung mengalir air panas yang ditampung pada bak penampungan. Air panas ini mengandung belerang yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus melewati perkampungan tradisional.
Selesai dengan kunjungan ke berbagai objek wisata di Provinsi Sulawesi Tengah, rasanya tidak lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas Sulawesi Tengah. Selain pahatan kayu Eboni, ada juga Sarung Donggala yang bisa kita jadikan sebagai oleh-oleh. Tenun Ikat Donggala adalah salah satu kerajinan daerah Sulawesi Tengah dengan motif khas masyarakat Kaili yang masih dikerjakan secara tradisional. Selain itu, ada juga  madu asli, bawang goreng, abon ikan, abon sapi, kacang disko, dan lain-lain yang bisa dijadikan buah tangan.
Hmmm, gimana setelah membaca tulisan di atas? Penasaran nggak dengan indahnya Kota Palu? Yuk jalan-jalan ke sini. Dijamin nggak bakalan nyesel. 


by.andri amin tawakal 

 

Jumat, 03 Juni 2011

kotaku kampungku palu

Kota Palu

Kota Palu
—  Sulawesi Nuvola single chevron right.svg Sulawesi Tengah  —
Lambang Kota Palu
Lambang

Kota Palu terletak di Indonesia
Kota Palu
Lokasi Kota Palu di Pulau Sulawesi
Koordinat: 0°54′S 119°50′E / 0.9°LS 119.833°BT / -0.9; 119.833
Negara  Indonesia
Pemerintahan
 - Walikota Rusdi Mastura
 - DAU Rp. 422.397.157.000,- (2011)[1]
Luas
 - Total 395,06 km2
Populasi (2005)
 - Total 282.500
 Kepadatan 680,05/km²
Demografi
 - Suku bangsa Kaili, Kulawi, Pamona, Banggai, Tionghoa
 - Agama Islam, Kristen, Buddha
 - Bahasa Indonesia, Kaili
Zona waktu WITA
Kode telepon +62 451
SNI 7657:2010 PAL
Kecamatan 4
Desa/kelurahan 43


Palu adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Palu terletak sekitar 1.650 km di sebelah timur laut Jakarta. Koordinatnya adalah 0°54′ LS 119°50′ BT. Penduduknya berjumlah 682.500 jiwa (2011). 
Alhamdulillah.. Akhirnya diriku dapat kesempatan untuk mengunjungi tanah Sulawesi. Hehehe, kemanakah diriku pergi ? Bukan Manado.. bukan Makassar.. melainkan Palu. Ok, jika ada yang langsung bertanya disebelah mananya dunia kah Palu itu ? Hehe, itu ibukota propinsi dari Sulawesi Tengah.
Dalam rangka apa ke Palu ? Masih sama kaya waktu itu aku pergi ke Palembang, untuk sosialisasi datawarehouse. Tapi bedanya, sekarang diriku yang full presentasi. Ahiahia.. Stress juga, secara mesti memahami semua konsep bahan yang ada dan mesti mengerti banget cerita dibalik semua kubus yang ada. Tapi gpp sih, itu tantangan buat aku dan alhamdulillah dibantu sama Mas Adi dan Mas Everd. Di drill satu hari euy.. Bistu langsung ke Palu.

Ke Palu naik Merpati, pesawat paling pagi dari Jakarta. Garuda ga nyampe Palu. Hehe.. kebayang kecilnya itu kota dunk.. :P Kita transit dulu di Makassar. Alhamdulillah pesawatnya ga ngaret lama, telat sekitar 20 menit. Yaa lumayan lah, masih tolerable (untuk ukuran maskapai Indo).
Begitu mau mendarat di Palu bisa dilihat gunung-gunung yang masih hijau dan mengitari kota Palu. Dari atas pesawat aja diriku sudah terpana, betapa masih “perawan”nya tanah Sulawesi ini”. Hmm.. yang tadinya aku pikir perjalanan ke Palu tidak akan menarik, mm.. nampaknya banyak hal baru yang akan aku rasakan.
Kita mendarat di bandara internasional Mutiara. Mmm.. namanya sih Internasional, tapi.. Huehuehue.. kecil ajee.. Cuman ada satu pesawat pas kita mendarat, Sriwijaya Air. Eh 10 menit kita sampai, Sriwijaya air langsung terbang lagi deh. Hehehe..
Bandara Udara Internasional Mutiara Palu
Pak Narno (supir dari KBI Palu) udah siap menjemput kita. Pas bagasi udah pada turun, langsung deh bergerak menuju hotel. Mmm.. berhubung di pesawat kita cuman dikasi roti sama air, ibu Elsye mengusulkan bagaimana kalau kita makan siang dulu. Kita akhirnya makan siang khas makanan Palu. Yaitu Kaledo namanya. Itu singkatan dari Kaki Lembu Donggala. Hehe macem kaya Sop Dengkul Sapi gitu deeh.. Disajiinnya sama tulang-tulang nya juga. Jadinya sum-sum di dalam tulangnya bisa kita ambil.. Umm.. enaaaaakkk bangeeeettt.. Rawan kolesterol tinggi. Tapi gpp.. Enak buangeeett.. Masih terbayang loh mpe sekarang.. Yummeeehh..
Kaledo khas Palu
Bistu pas menuju hotel, melewati jembatan baru di Kota Palu. Jembatannya itu persis di ujung Teluk Palu. Kata Mas Narno SBY waktu itu yang ngeresmiin jembatannya. Karena aku masi terpesona dengan landscapenya kota Palu, aku minta mas Narno buat berhentiin kita di Jembatan. Ngapain ? Foto-foto dunk.. :) Menurut aku sih keren. Hamparan gunung-gunung yang mengelilingi kota dan luasnya lautan membuat diriku terkagum-kagum. Coba ya kota kecil ini bisa lebih berkembang. Akan sangat menarik.. :)
Gunung yang mengelilingi kota Palu 
Puas foto-foto, langsung menuju Hotel. Nama hotelnya Palu Golden. Katanya siih bintang 4, dan katanya juga sih paling bagus di Palu. Wehehehe.. No Comment aku soal hotelnya. Yang jelas feels like home lah pasti nyampe hotelnya. Humm.. dikarenakan banyak ornamen-ornamen di dalam hotel yang ada juga di rumah aku. Yang jelas, tidurku nyenyaak..
Pemandangan Teluk Palu dari balkon hotel
Besok paginya langsung menuju KBI Palu. Hmm.. dari gedung KBInya sih cukup merepresentasika keadaan kota Palu itu sendiri. Palu = Jakarta in the 70s. Hehehe.. jadul euy.. Antik dan menarik.. :D Yang jelas, ga macet. Kemana-mana katanya ga nyampe gigi 3. Pokoknya ga bakal berhubungan dengan namanya kemacetan yang bikin emosi semua orang yang ada di Jakarta.
KBI Palu
Selesai unggah ungguh dengan para petinggi di KBI Palu , lalu dikenalin dengan para staff yang akan mengikuti training. Eh ternyata rame anak PCPM loh di Palu. Ada angkatan aku tahap 2, namanya Intan. Terus angkatan 26 ada satu namanya Yansen. Dan angkatan 25 ada dua, Rawindra dan Mursidi. Ehh ternyata mas Rawindra itu saudaranya si Max loh.. Mmm banyak amat ya si Max saudaranya di BI. Huihihihi.. :P
Alhamdulillah trainingnya lancar. Alhamdulillah bisa jawab pertanyaan-pertanyaannya. Dan semoga deh bisa membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugasnya. :)
Selesai training langsung diajak makan siang di Teluk Donggala. Umm.. makan ikan bakar. Enak..enak.. Perjalanan sih agak jauh yaa.. Cuman worth it ko. Yang aku cobain itu makan Ikan Sunu Bakar. Macam kaya kerapu gitu bentuknya. Enak banget ikannya. Segar dan manis.. Yang unik ya, makan ikan bakarnya pake sayur nangka kaya sayur nangka di restoran Padang gitu. Umm.. aneh yaa.. Eh tapi begitu dirasain ternyata sinkron loh sama sambal dan bumbu ikan bakar nya. Enak..Enak.. Yum..yumm.. Mauu lagi.. Mauu lagi.. Hehe..
Ikan Sunu Bakar
Selama makan siang Mas Windra cerita kalo dia suka banget touring keliling Palu. Humm mendengar ceritanya sebenarnya tergoda banget buat extend di Palu. Tapi hihihi.. ada yang ga ikhlas kalo aku extend.. :P Abis makan aku sama ibu Elsye berburu oleh-oleh khas Palu. Humm.. sebenarnya pilihan buat oleh-oleh juga ga banyak sih yaa.. Yang khas di Palu adalah souvenir kayu hitam dan bawang goreng. Laah ? ko bawang goreng ? Iyaa.. jadi bawang merah khas palu itu emang unik banget. Kecil-kecil dan warnanya itu ga semerah bawang merah biasanya. Terus teksturnya juga keras banget. Kaya batu malah. Diajakin mas Narno ke tempat produksi bawang goreng nya. Bisa ngeliat bawangnya pas masih mentah dan tentunya bawang gorengnya. Katanya sih kontur tanah Palu yang berpasir yang bisa membuat bawang jenis tersebut tumbuh dan berproduksi. Pas nyobain bawangnya sih emang enak banget. Kriuk..kriuk.. Dan rasanya itu.. Lama-lama jadi berasa manis di mulut. Unik banget emang..
Bawang Merah khas Palu
Hehe.. sorenya diajakin lagi jalan-jalan sama temen-temen PCPM. Nongkrong di pinggiran teluk Palu dan makan pisang goreng pake sambal. Wehehehe.. Enak..enaak.. Terus diajakin liat lapangan tennis punya BI di Palu. Dan akhirnya makan malam di restoran seafood di tengah kota. Karena rata-rata hobi makan cumi, jadinya kita pesen cumi bakar, cumi goreng tepung sama cumi asam manis. Cuminya enak bangeeett.. Gede-gede dan rasanya manis. Aaaahh.. kenikmatan seafood laut Sulawesi emang luar biasa.
Benar-benar pengalaman yang menarik. Aku mau travelling ke Sulawesi lagi… Aku Mauu.. Aku cinta Indonesia. Looh !?!? Ya begitulaah.. Negara kita emang kaya tauu.. Semoga bisa semakin berkembang yaa..
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
 

Indahnya Pesona Jembatan Palu 4

Indahnya Pesona Jembatan Palu 4
lawan.us,- Salah satu tempat wisata yang bisa kita kunjungi saat berlibur yakni Teluk Palu. Berlokasi di Palu Timur berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat Kota Palu. Nah, salah satu hal yang mengagumkan yang pernah dibangun di wilayah ini yakni adanya Jembatan Palu 4.  Apa yang istimewa dari adanya jembatan itu? Ternyata jembatan ini tidak hanya mempercantik objek wisata Teluk Palu, akan tetapi karena jembatan tersebut menyandang gelar sebagai jembatan lengkung pertama yang berhasil dibangun di Indonesia dan menempati urutan ke tiga di dunia, wow..
Awalnya keberadaan Teluk Palu tidak sepopuler saat ini. Semua berubah setelah pembangunan Jembatan Palu 4. Sebuah jembatan yang dibangun tepat di hadapan Teluk Palu pada Mei 2006 yang menghubungkan Kecamatan Palu Timur dan Palu Barat, dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebuah kebanggaan warga Kota Palu mengingat jembatan itu merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia, dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis.
Keberadaan Jembatan Palu 4 menambah indahnya pemandangan Teluk Palu pada malam hari. Apalagi kalau sedang berada di atas jembatan dan melihat ke langit ketika ada pesawat melintasi Teluk Palu, suasananya begitu menyenangkan.
Belum lagi dari atas jembatan terlihat jelas gambaran teluk yang ditandai dengan sinar-sinar lampu penerang. Lampu-lampu perahu nelayan bergerak-gerak di tengah teluk karena diempas gelombang terlihat begitu indah.
Seiring tetap tegaknya Jembatan Palu 4, pembangunan di kawasan sekitar teluk mulai meningkat. Hal itu ditandai dengan berdirinya hotel-hotel, tempat hiburan, dan restoran yang tiap malam tak henti-hentinya dipadati pengunjung.
Selain itu, keberadaan nelayan tradisional dan pedagang ikan turut meramaikan suasana malam, pagi, dan siang harinya. Ini pun kemudian menjadi salah satu pilihan objek wisata di kawasan Teluk Palu.
Pantai Talise
Selain bisa menikmati kehidupan nelayan, Anda bersama keluarga bisa berenang di Pantai Talise. Pantai itu berada di ujung Teluk Palu. Pantai itu membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala.
Karena letaknya berada di kota, pantai ini ramai dikunjungi warga Palu, terutama pada malam hari. Pantai Talise menjadi tempat wisata malam. Warga dapat menikmati keindahan Teluk Palu yang berbatasan dengan Selat Makassar itu.
Kota Palu memang sangat indah. Tidak mengherankan bila kota ini dikenal dengan julukan Kota Tiga Dimensi karena ada Teluk Palu yang indah, dikelilingi pegunungan, dan dilengkapi sungai panjang yang membelah kota. Sungai ini adalah muara dari Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu.

KenaLi Kotaku; Palu – Sulawesi Tengah 16/03/2011

Sulawesi Tengah merupakan satu dari sedikit wilayah di Indonesia yang memiliki perpaduan serasi antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan sejarah yang panjang, yang sangat menarik untuk diketahui, dipelajari, dan tentu saja… untuk DIKUNJUNGI!
Kota Palu
Kota Palu berada di Teluk Palu dengan bentuk daratan berupa dataran rendah di bagian barat serta daerah berbukit di bagian timur. Secara astronomi, Kota Palu terletak antara 0° 35″ – 0° 56″ lintang selatan dan 119° 45″ – 120° 1″ bujur timur tepat berada dibawah garis khatulistiwa. Kota yang jarang turun hujan ini dikenal sebagai salah satu kota terkering di Indonesia dengan udara yang panas pada siang hari dan sejuk pada malam hari. Udara yang panas akan membuat tubuh kita berkeringat sepanjang hari, namun hal ini cukup terobati oleh keindahan pemandangan yang ditawarkan Kota Palu yang membuat sejuk mata. Banyak objek-objek wisata yang berpotensi untuk berkembang di Kota Palu
, baik objek wisata alam dan objek wisata budaya. Beberapa objek wisata yang ada antara lain Teluk Palu merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang memiliki daya tarik pemandangan pegunungan dan pantai serta memberikan peluang untuk olahraga selancar     
angin (windsurfing). Pantai Talise memiliki panorama alam yang indah dan cocok untuk melakukan olahraga air seperti selancar angin (windsurfing) dan ski air (waterski). Di pantai ini juga dapat menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) di sela-sela Gunung Gawalise sambil menyaksikan nelayan memancing atau menjala ikan. Pada malam hari tempat ini banyak dikunjungi masyarakat untuk menikmati udara alam yang sejuk sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah seperti jagung bakar dan sarabah. Taman Ria, merupakan tempat rekreasi keluarga di pesisir Teluk Palu yang biasanya ramai dikunjungi pada malam hari dan pagi atau sore hari pada hari libur, sambil menikmati makanan dan minuman khas daerah di sepanjang pesisir pantai serta menikmati pemandangan Teluk Palu. Selain pemandangan di sepanjang pesisir pantai, Kota Palu juga menawarkan pemandangan perbukitan yang sangat cocok untuk dikunjungi baik pada siang maupun malam hari sembari santai melihat Kota Palu dan Teluk Palu yang cantik dari ketinggian. Bumi Roviega adalah salah satu objek wisata yang berupa daerah perbukitan di bagian timur Kota Palu. Dari kawasan Bumi Roviega, dapat menikmati pemandangan alam Teluk Palu dan di kawaan ini juga terdapat arena motor cross, padang golf, pusat kerajinan di lokasi MTQ Jabal Nur, Pusat Industri Kecil (PIK) rumah tangga dan lokasi Perguruan Tinggi Negeri Tadulako (UNTAD). Selain itu juga terdapat Cagar Alam Poboya, yaitu hutan lindung dengan luas areal 1.000 hektar dimana terdapat perkebunan kemiri yang dapat dijadikan objek wisata agro. Dari tempat ini dapat menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) dan pemandangan alam Kota Palu serta Gunung Gawalise yang letaknya berhadapan.
Selain menawarkan objek wisata alam, Kota Palu juga banyak terdapat objek wisata budaya. Diantaranya adalah Sou Raja atau Banua Oge. Sou Raja (rumah Raja) adalah rumah adat yang dibangun dengan perpaduan arsitektur Bugis dan Suku Kaili yang masyarakatnya mayoritas mendiami Lembah Napu. Sou Raja dibangun atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abad ke-19 sebelum masehi yang berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga raja dan sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Sou Raja yang berada di Kelurahan Lere merupakan bekas tempat tinggal Raja Djanggola yang dahulu pernah berkuasa di Palu. Ada juga Makam Dato Karama. Dato Karama adalah gelar dari Abdullah Raqie, tokoh yang pertama mengajarkan agama Islam di kalangan suku Kaili di Lembah Palu sekitar awal abad ke-19, masyarakat setempat memberi gelar Dato Karama karena ia memiliki banyak kesaktian. Makam Dato Karama selain mengandung nilai sejarah juga dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan pada waktu tertentu masyarakat sering melakukan ziarah ke tempat ini. Di lokasi makam Dato Karama terdapat 21 buah makam, diperkirakan diantaranya terdapat makam istrinya, sedangkan yang lainnya adalah makam pengikutnya. 
Kabupaten Poso
Perjalanan Palu-Poso ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan. Pemandangan di sepanjang jalan menuju Poso sangat menakjubkan. Perbukitan yang hijau setia menemani perjalanan.
Poso merupakan kota pelabuhan utama sekaligus kota pelabuhan dan terminal di wilayah pantai utara Sulawesi Tengah. Bagi wisatawan, Poso adalah kota persinggahan (transit) sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi wisata di sekitar Poso. Lokasi pertama yang bisa kita kunjungi ketika sesampainya di Kabupaten Poso adalah Danau Poso. Danau terbesar ketiga di Indonesia ini memiliki luas sekitar 32.300 hektar dengan kedalaman rata-rata 500 meter. Letak danau berada pada ketinggian 657 meter di atas permukaan laut. Danau ini memiliki keunikan karena berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti laut. Panorama alam disekelilingnya sangat indah dan perbukitan serta hutan disekitarnya berdiri tegak memagari danau. Pada setiap bulan Agustus digelar acara Festival Danau Poso yang merupakan acara budaya yang terbesar di wilayah ini. Festival ini diikuti oleh sebagian besar masyarakat desa yang berada di daerah yang indah ini. Setelah puas menikmati pemandangan Danau Poso, kita bisa  melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Saluopa. Air terjun Saluopa terdiri dari 12 tingkat dengan aliran air yang sangat deras, jernih dan sejuk. Di sekitar air terjun ini terdapat hutan yang menambah ke­indahan panorama alamnya. Untuk menuju lokasi air terjun harus ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 500 meter dari tempat parkir kendaraan. Pengunjung dapat naik sam­pai ke tingkat teratas melalui tangga yang berada sepanjang air terjun dan tidak berlumut. Perjalanan panjang menuju air terjun rasanya terbayar oleh keindahan air terjun yang sangat menyejukkan mata. Bahkan pengunjung dapat berenang di beberapa kolam dengan airnya yang bening sejernih kristal. Setelah puas bermain air, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Ada objek wisata Goa Pamona. Pada masa budaya megalith, Goa Pamona berfungsi sebagai tempat penguburan kedua. Mulut Goa Pamona menghadap ke selatan dengan lebar 2,40 meter, memiliki kedalaman sedalam 80 meter dan di dalamnya terdapat 8 buah kamar tempat menyimpan ke­rangka manusia serta bekal kuburnya. APA!?! Kerangka manusia?? Tengkorak?!?
Selain itu di Poso, kita dapat mengunjungi Pusat Kerajinan Rakyat Pembuat Cinderamata. Di tempat ini dapat disaksikan ketrampilan para pengrajin meng­ukir kayu eboni untuk dijadikan souvenir atau cinderamata bagi para wisatawan. Kayu eboni atau lazim disebut kayu hitam merupakan kayu yang langka di dunia dan harganya sangat mahal. Bibit kayu eboni ini terdapat di tengah-tengah hutan, apabila akan digunakan untuk bahan baku meubel dan cinderamata, kayu ini harus sudah berumur ratusan tahun baru dapat diproses atau ditebang. Dasar wanita, begitu dengar kata cinderamata, yang ada di otaknya adalah belanja. Yup! It’s time for shopping, girl!!!
Poso adalah sebuah kota kecil yang teratur dan dapat ditempuh keliling kota ini hanya dengan berjalan kaki. Suasana malam di Kota Poso cukup sepi. Mungkin masih ada pengaruh pasca kerusuhan beberapa waktu silam, sehingga belum banyak masyarakat maupun wisatawan yang datang ke kota ini. 

Kabupaten Parigi Moutong
Kabupaten Parigi Moutong terletak memanjang di sisi barat Teluk Tomini, dengan luas wilayah 6.231,85 km2. Keadaan alam wilayah Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari daratan, pantai dan hamparan-hamparan pegunungan yang luas, menyimpan kekayaan objek-objek wisata yang berpotensi menjadi daya tarik bagi kunjungan wisatawan ke tempat ini. Kita bisa menyusuri jalan Trans Sulawesi di sepanjang pesisir Teluk Tomini dari arah selatan menuju utara Kabupaten Parigi Moutong.

Objek wisata pertama yang bisa dikunjungi adalah Air Panas Kayu Boko. Dahulu tempat ini adalah tempat pemandian serdadu-serdadu jepang pada jaman penjajahan Jepang dan memiliki panorama alam yang indah. Di sini juga terdapat Tugu Khatulistiwa. Siapa bilang Tugu Khatulistiwa hanya terdapat di Pontianak, Kalimantan Barat saja. Di Kabupaten Parigi Moutong ternyata juga ada. Dibangun pada tahun 1992 sebagai tanda bahwa desa tersebut berada tepat pada garis khatulistiwa 0o. Pembangunan tugu tersebut dalam rangka kegiatan Latihan Integrasi Taruna Dewasa (LATSITARDA) Nusantara XIII (1991-1992). Satu hal yang disayangkan, keadaan tugu khatulistiwa disini tidak terawat dengan baik. Hanya dibiarkan begitu saja dengan cat yang kian memudar juga rumput liar tumbuh di sekeliling tugu. Padahal sebenarnya tugu khatulistiwa ini dapat menjadi salah satu simbol Kabupaten Parigi Moutong. Melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita bisa menuju ke salah satu objek wisata budaya lainnya yaitu Situs Bekas Istana Tinombo. Bangunan bekas istana Tinombo dibangun pada tahun 1930 oleh Pemerintah Belanda, pada masa pemerintahan Raja Tinombolotutu, dengan arsitektur Cina. Bangunan ini terdiri dari atas bangunan induk dengan luas 15,5 x 12,5 meter dan dapur dengan luas 14,5 x 5,5 meter serta memiliki halaman dengan luas 90 x 80 meter. Bangunan ini pernah dipugar dan dirawat oleh ahli waris.
Cukup mendatangi objek wisata budaya, sekarang waktunya melirik objek wisata alam yang ada di Kabupaten Parigi Moutong. Pertama adalah Air Terjun Likunggawali. Objek wisata ini merupakan tempat olahraga panjat tebing yang curamnya lebih dari 80 meter dan memiliki panorama alam yang indah. Di lokasi ini juga terdapat air terjun dan jalur trekking yang melewati beberapa desa di sekitar, yaitu Jalur Likunggawali–Janaedo (merupakan jalur trekking dari daerah pantai timur ke daerah pantai barat) dan jalur trekking Towera–Janaedo. Pada jalur trekking Linggawali–Janaedo, yang dapat dilihat adalah air terjun Toranaya dan pada waktu-waktu tertentu di lokasi air terjun dapat dilihat burung Walet Sarang putih (Callocalia Fuchipagus). Jalur menuju air terjun masih sangat alami, sehingga  benar-benar harus melewati semak belukar, menyeberangi sungai, lompat diantara batu-batu sungai, juga memanjat untuk mencapai lokasi air terjun.
Setelah  berpetualang mendaki gunung lewati lembah, next destination is… Pantai Nalera! Pantai Nalera terletak tepat di pinggir jalan raya Trans Sulawesi, sehingga untuk mencarinya tidaklah sulit. Pantai ini memiliki panorama alam yang indah karena letaknya yang berhadapan dengan gunung, dengan hamparan pasir putih yang indah dan luas, sehingga cocok untuk tempat mandi dan berjemur. Disini para pengunjung dapat menikmati sunrise dan sunset. Apabila air surut, maka akan terbentuk kolam yang dikelilingi oleh karang yang berwarna warni.
Di sini juga terdapat habitat satwa langka Burung Maleo. Burung Maleo adalah merupakan jenis satwa endemik Sulawesi yang dilindungi. Burung Maleo bertelur di pasir dengan kedalaman sekitar 30 sentimeter. Sesudah bertelur, burung tersebut terbang dan waktu penetasannya secara alamiah dalam selang waktu kurang lebih 80 hari. Telurnya 6 kali lebih besar dari telur ayam, sedang­kan besar Burung Maleo hanya sebesar ayam biasa.
Kabupaten Donggala
Donggala adalah sebuah kota tua yang terletak 34 km timur laut dari Kota Palu dengan arsitektur Belanda yang masih menghiasi kota. Pada masa kolonial, Donggala merupakan kota Pelabuhan dan perdagangan yang cukup sibuk di wilayah Sulawesi Tengah.
Salah satu pantai yang kudu kita kunjungi ketika berada di Palu, yaitu Tanjung Karang. Tanjung Karang merupakan lokasi wisata terpenting di wilayah ini sekaligus menjadi salah satu objek wisata andalan Provinsi Sulawesi Tengah. Pantai Tanjung Karang terletak sekitar 5 km di utara Donggala. “INDAHNYAAAAAAAAA………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”



pantai berpasir putih dengan warna air laut yang bervariasi dari hijau hingga biru. Masih sangat alami. Seperti namanya, Tanjung Karang juga menawarkan keindahan bawah laut berupa taman laut dengan aneka terumbu karang dan ikan hias. Tidak jauh dari Pantai Tanjung Karang terdapat objek wisata Pusentasi. Merupakan sumur air asin yang letaknya kurang lebih 10 meter dari pantai dengan garis tengah kurang lebih 15 meter dan dengan kedalaman kurang lebih 7 meter. Oleh masyarakat setempat disebut Pusentasi yang artinya pusat laut. Bila air surut maka air di dalam sumur akan naik dan sebaliknya bila pasang naik air di dalam sumur akan surut. Pusentasi berada di dalam kawasan objek wisata Pantai Pasir Putih Pusentasi Towale yang memiliki panorama alam dan udara yang sejuk, serta dihiasi oleh jejeran karang di pinggir pantai yang sangat indah dan berwarna-warni. Konon masyarakat setempat mempercayai bahwa jika kita berhasil menyentuh bagian bawah dari sumur air asin (pusentasi) yang berbentuk tangan dan berdoa agar diberi jodoh maka itu akan menjadi kenyataan. Percaya? Silahkan mencoba.

Belum lengkap rasanya jika mengunjungi Kabupaten Donggala tanpa berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu. Kawasan hutan yang terletak sebagian di Kabupaten Donggala dan sebagian di wilayah Kabupaten Poso memiliki luas 217.991 hektar. Ditetapkan sebagai Taman Nasional karena memiliki potensi flora dan fauna tropis yang berkarakteristik Sulawesi. Di kawasan ini juga terdapat patung-patung megalith dengan berbagai bentuk yang tersebar di sekitar 431 situs di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Selain itu di dalam Taman Nasional Lore Lindu terdapat sebuah danau bernama Danau Lindu. Terletak di tengah Taman Nasional Lore Lindu dan dikelilingi hutan tropis pada ketinggian 960 meter di atas permukaan laut serta habitat flora dan fauna khas Sulawesi. Di tengah Danau Lindu terdapat pulau kecil yang oleh penduduk setempat disebut Pulau Bola dimana terdapat kuburan tua Raja Maralindo yang terbuat dari sebuah batang kayu. Untuk menikmati panorama alam danau, dapat menggunakan motorboat yang disewakan oleh penduduk setempat. Satu hal yang perlu diperhatikan jika ingin berkunjung ke Taman Nasional Lore Lindu, pastikan kondisi kendaraan Anda dalam keadaan baik, karena medan menuju ke lokasi sangat parah dengan kondisi jalan yang rusak, berbukit, dengan jarak yang cukup jauh. Belum lagi jika ingin menuju Danau Lindu hanya dapat ditempuh menggunakan motor selama 1 jam perjalanan dari gerbang Taman Nasional Lore Lindu. Melelahkan. Butuh waktu seharian jika ingin menjelajahi seluruh kawasan taman nasional, bahkan mungkin lebih.

Objek wisata lainnya, yaitu Pemandian Air Panas Bora. Air Panas Bora merupakan objek wisata alam lainnya di Kabupaten Donggala yang terletak di Desa Bora, Keamatan Sigi Biromaru, sekitar 20 km dari Palu. Memiliki panorama alam yang indah dari celah-celah gunung mengalir air panas yang ditampung pada bak penampungan. Air panas ini mengandung belerang yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Untuk mencapai lokasi ini pengunjung harus melewati perkampungan tradisional.
Selesai dengan kunjungan ke berbagai objek wisata di Provinsi Sulawesi Tengah, rasanya tidak lengkap jika tidak membawa oleh-oleh khas Sulawesi Tengah. Selain pahatan kayu Eboni, ada juga Sarung Donggala yang bisa kita jadikan sebagai oleh-oleh. Tenun Ikat Donggala adalah salah satu kerajinan daerah Sulawesi Tengah dengan motif khas masyarakat Kaili yang masih dikerjakan secara tradisional. Selain itu, ada juga  madu asli, bawang goreng, abon ikan, abon sapi, kacang disko, dan lain-lain yang bisa dijadikan buah tangan.
Hmmm, gimana setelah membaca tulisan di atas? Penasaran nggak dengan indahnya Kota Palu? Yuk jalan-jalan ke sini. Dijamin nggak bakalan nyesel. 


by.andri amin tawakal